Anatomi Aktivis ?

unduh file selengkapnya>>>

12 Mei 2010, siang ini awan kelam menyelimuti kampus kami. Mendung itu sepertinya sudah tidak bisa lagi dibendung oleh langit. Hujan pun turun dengan dentum yang semakin keras seolah tak mau mengerti ketergesaan ku untuk segera sampai di kostan demi menghampiri si hitam.. ya si “hitam”.. komputer manis ku itu, ada setumpuk kerjaan kuliah hari ini  yang mesti selesai untuk dikumpulkan esok hari. Namun hujan semakin mengganas, ganas yang memupuskan harapan, memaksa langkah kaki yang terseok lari akhirnya dengan iba mengarah sebuah teras kantin.

Dion: “5 meter lagi teras kantin itu baru bisa aku singgahi”. Ucapnya dalam hati. Menghampiri sebuah meja yang konsong. “Bu, pesan teh manis panas satu”.

Dengan basah kuyup Dion mulai menikmati segelas teh mamis panas yang berada dihadapannya itu. Tampak dikejauhan Ia melihat sosok pemuda yang tampak tidak asing lagi. Aris, seorang mahasiswa aktivis sebuah organisasi kemahasiswaan, teman satu kamar kost yang sudah bersamanya semenjak sekolah SMA dulu.

Aris: Dari kejauhan Ia melihat teras kantin “Eh, Dion tuh… wah asyik nih… bisa minta traktir… hehehe”. Berlari bak kuda pacu, Aris menuju kantin tersebut, lalu menghampiri meja yang disinggahi temannya, Dion. “Assalamu’alaikum Sob, weh… gimana nih… ke ujanan ya… boleh ya duduk disamping.”

Dion: ”Wa’alaikumsalam. Udah duduk, gue juga tau… Bu, pesan teh manis panas nya lagi satu”.

Aris: Wajahnya seperti mengejar yang tertinggal. ”Bu… Bu Eti, sekalian rokok kreteknya sebatang, biar Dion sekalian yang bayar”. Sambil mengedipkan mata kanannya kearah Dion.

Dion: ”Kebiasaan deh…”.

Aris: Tersenyum… “Terima kasih Sob”.

Dion: ”Kamu ini Ris, katanya sudah telat untuk segera menyelesaikan masa studi, kemana kamu tadi. Inget loh…  kamu itu udah 6 kali dengan ini tidak masuk. Mata kuliah Pak Mugi itu 3 sks, jatah mu cuman tiga”.

Aris: ”Iya Di, abis gimana, hidup itu kan pilihan berbuat”.

Dion: ”Eh… maksud kamu, apa Ris? Ditanya bener-bener kok malah bikin aku bingung sih… makanya tuh isi kepala jangan melangit terusssss…!!!”

Aris: ”Kuliah memang kewajiban… namun menggagalkan kebijkaan Rektor pelit itu lebih mendesak…”.

Dion: ”Oh… Kamu ini Ris, bukannya kesimpulan diskusi terbuka kemarin itu masih sementara, masih ada yang perlu di buktikan terlebih dahulu… ck.ck.ck.”

Aris: ”Kedzaliman tidak bisa dibiarkan Di, keadilan mesti ditegakan dengan SEGERA!”.

Dengan wajah yang dingin serta tatapan pilu nan cemburu, menyiratkan ketidaksetujuan dan khawatir, Dion mulai mengalihkan arah pembicaraannya kepada Aris. Hujan masih deras disana dan udara dingin masih menyengat tulang, seorang pramusaji menghampiri mereka dan meletekan 2 gelas teh manis panas dengan sebuah asbak dan sebatang rokok kretek. Dengan tersenyum, Dion menerima struk yang disodorkan kepadanya. Tak lama kemudian satu lembar uang 10rban diletakkan di atas nampan pramusaji tersebut.

Dion: ”Ambil saja kembaliannya Mbak… Terima kasih ya Mbak.”

Aris: ”Cantik ya… hehehe”.

Dion: ”Kamu Ris, kambing didandani pun pasti juga bilang begitu…”

Aris: Sambil cemberut dengan mimik muka tidak senang “Bete Deeehhhhh…. Mentang-mentang sang punjangga cinta bersahaja di depan sang jomblo ini… perlu kamu tau ya Di, gue jomblo karena gue bukan seperti para penjilat dan pengecut itu… saya ini kesatria…”

Dion: Dengan mimik yang semakin mengejek ”HAHAHAHA…. Kesatria bertopeng ato baja hitam…. HAHAHAHA”.

Aris: ”Kamu masih belum mengerti Di….”.

Dion: ”Udah, lupain aja si Ana itu… udah setaun rasanya kalian itu putus, bahkan kabarnya ia udah punya gacoan lagi…”.

Aris: ”Ya, tapi untuk ku masih belum ada yang cocok…”

Dion: ”Cocok ato kagak ada yang kayak si … Ehm… itu, kamu sih sok… udah tau belum clear duduk permasalahannya, Eh… malah udah bikin keputusan… jahat kamu Ris.”.

Aris: Menyalakan sebatang rokok yang semenjak tadi di pegangnnya, mengepulkan asap kelam, sekelam pikirannya. “Mungkin betul juga apa yang kamu katakan itu Di.”.

Dion: “Nah, betulkan apa kata ku tadi.. sifat kamu ini yang berbahaya, coba… apa kamu tidak perhatikan kemiripan perilaku mu itu dengan keputusan meniggalkan kelas hanya karena untuk … menggagalkan kebijakan Rektorat sebagaimana kata mu itu…”

Aris: “Aku tadi Berdemonstrasi di depan gedung Rektorat Di, di sana juga banyak temen-temen yang lain, yang sama tidak setuju dan merasa dirugikan.”

Dion: “Kalian ini para aktivis memang benar ya apa yang dikatakan orang… “.

Aris: “Maksudnya?”.

Dion: “Bagaimana bisa baik dalam memperjuangkan apa yang sering kalian klaim dan teriakan itu, KEBENARAN DAN KEADILAN, wong kalian juga masih belum tentu mengerti itu.”

Aris: Dengan maksud memahami, sepasang telinga dan mata serta pikirannya dipusatkan pada pernyataan yang menampar tersebut. “Saya tidak ingin bersitegang dengan kamu Di, apalagi setelah demonstrasi tadi.”.

Dion: “Ya enggak dong Ris… tukang kritik kok takut dikritik. Begini, aktivis katanya sih. Kepalanya itu idealis, bagusnya kedua tangannya sosialis, namun perutnya tetep kapitalis, parahnya lagi tuh bagian pusar kebawah sifatnya liberalis, kedua kaki yang mesti kena perhatian dan batasan itu, terlalu prularis. Apa gak salah tuh semuanya di borong begitu.”.

Aris: “Hehehe… sumpeh deh, gakak ngerti…”.

Dion: “Ia, dengan idealismenya para aktivis itu kadang-kadang kurang sabaran dan serakah dalam menolong sesama, padahal yang bisa seperti itu dan sempurna kan cuman Tuhan. Kedua, alih-alih menolak kemiskinan dan ketimpangan sosial, hidupnya cuman menggantungkan diri pada proposal dan uluran tangan para senior ato pejabat terentu, bukannya malah bikin gak idealis tuh…”.

Aris: “Menolong sesama itu kan keniscayaan Di, kita kan makhluk sosial, lalu kalo masalah proposal, yang kita minta juga itu kan uang rakyat.”

Dion: “Hahaha… itu dia masalahnya Ris, menolong jika emang kita pantas menolong, bagaimana kita bisa memberi kalo tidak memiliki? Maksudnya menolong pun juga ada batasan dan aturan mainnya, alih-alih menolong wong cilik eh malah bikin macet jalan, bukannya malah menggangu jalannya roda ekonomi wong cilik tuh…? Untung aja demo kali ini di dalam kampus, bukannya di tengah jalan. Masalah proposal yang atas nama uang rakyat , pertama, beneran tuh, kalo itu proposal yang isinya program? Ada LPJnya gak? bukankah itu malah dapat menstimulus kecurangan bagi pihak yang diminta, jangan-jangan bener uang rakyat tuh yang kalian terima, jadi rakyat sebenarnya yang mesti dibela malah gak kebagian haknya.” Sambil menikmati teh manis panas yang dipesannya tadi. “Nah, untuk yang ‘liberalis’ dibagian bawah pusar itu, maksudnya aktivis kalo punya cewek, gak pernah ada yang mau serius kalo ngejalainin, gampang gonta ganti pasangan- yang ini penjahat wanita namanya, bahkan untuk beberapa kasus, banyak loh aktivis yang akhirnya kalah ketika digoda oleh kekuasaan Ia mampu dan oleh uang Ia kuat, namun oleh wanita Ia kalah. Atau untuk kasus lainnya, entah karena nilai apa, sudah tahu Ia berbeda agama dan keyakinan, eh malah milih pacar yang seperti itu, mending kalo iya mereka berdua itu serius, eh.. gak lagi, repot kan jadinya jika harus merepotkan komunitas agama dan keyakinan mereka masing-masing. Apakah itu yang dinamakan berekspresi atas nama kebebasan?”.

Aris: “Wah, kalo yang dimaksud liberalis hal itu, saya enggak tuh.”.

Dion: “Ya, eloh emang jomblo, tapi alam pikiran kamu itu tidak menutup demikian. Sebaiknya kamu coba banyak baca juga deh buku-buku muslim yang berhubungan dengan adab pergaulan dan berteman dengan lawan jenis, ato biar lebih gamblang buku yang membahas tentang pacaran dan nikah.”

Aris: “Ah, kamu … itu sih karena kamu sering ikut kegiatan tarbiyah aja ato si Muslimah cewek berjilbab itu, sang kekasih dan pujaan hati temanku Dion ini. hehehe.”

Dion: “Sudahlah, jangan kau kaitkan dengna Muslimah.” Dengan memberikan isyarat keseriusan pada Aris. “Nah, yang terakhir. Kalo seseorang dapat gampang bergaul dan diterima oleh banyak komunitas yang berbeda-beda memang menunjukan kebaikan, disana itu ada toleransi atas perbedaan, tapi kalo berlebihan apalagi kalau sampai gak jelas lagi mana identitas yang dimilikinya. Itu udah bahaya Ris!. Alih-alih berprinsip atas nama persamaan dan persaudaraan, prinsip yang lain kamu lupakan?”.

Aris: “Ah, gak segitunya juga kali… udahlah gak perlu lagi bahas kayak gituan, kamu kan Di bukan aktivis, mana tau bagaimana keadaan yang sebenarnya. Padangan kamu memang ada benarnya, tapi itu kan cuman apa yang kamu liat, bisa jadi cuman dari diri saya saja, tapi perlu kamu tau juga Di, aktivis pada dasarnya ialah para pencari kebenaran dan perindu keadilan. Itu semangat yang kami punya. Karena anatomi aktivis versus kamu itu belum selesai, kepala kami boleh idealis, kedua tangan kepedulian ini memang sosialis, lalu jika kamu menganggap yang ini (menunjuk pada bagian tubuh bawah pusar) adalah liberalis, tunggu dulu saya pikir kamu keliru dan jika kedua kaki kebersamaan kami yang pluralis itu juga dianggap keliru, maka perlu kamu koreksi dan tambahkan pula Di, (dengan menepuk dada oleh tangan kirinya) didada ini ada CINTA dan RINDU itu”.

Dion: “Ya sudah, aku cuman ngingetin aja dan khawatir, Apalagi gara-gara terlaku aktif ngurusin hal yang kayak gituan kamu sampai jarang masuk kelas. Dikhawatirkan akan berdampak pada penyelesaian masa studi mu itu.”

Hujan pun mulai reda dan berhenti dengan menyisakan rasa dingin yang masih kuat.

Aris: Sambil menenggak tetesan terakhir teh manis panas tersebut dan menghisap bagian terakhir dari kretek itu Ia pun berdiri “Terima kasih Di, saya terima itu, lagian emang udah di niatin bener-bener, abis perkara ini selesai, maka selesai juga masa aktivis ku sementara di kampus ini sampai aku lulus dan siap merebut peran yang lebih real lagi di masyarakat nanti”.

Dion: “Nah, begitu dong Ris, tapi sih kalo bisa niat itu jangan ditunda-tunda lagi. Niat saja sudah ditunda-tunda apalagi yang lainnya.”

Aris: “Ya Ris, doakan saja lah ya… saya mesti kembali ke sekretariat dulu, mau ada evaluasi dari hasil demonstrasi tadi. Terima kasih Di atas semuanya”.

Aris pun berlari menjauh, tubuh yang kurus itu mulai menghilang dari tatapan Dion. Sebuah Tatapan Pilu dan Cemburu.

unduh file selengkapnya>>>

Sebuah Hadiah untuk sang Aktivis

dari Andri Indrawan

One Response

  1. Catatannya Menarik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: