ISLAM DAN ICT DARI PRESFEKTIF PEMANFAATAN MEDIA PENYIARAN TELEVISI DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NILAI & KARAKTER PADA MASYARAKAT

unduh file>>>

A.    Pendahuluan

Dalam sejarahnya umat manusia senantiasa memperbaiki taraf kehidupannya, diantara peradabannya itu kita mengenal dengan terminologi “teknologi”, yang dimana teknologi itu hadir sebagai upaya manusia mencari-cari cara/ teknis tertentu yang dapat semakin mempermudah kehidupannya. Pada akhir abad ke-18 dan awal dari abad ke-19, ditandai dengan munculnya revolusi industri dimana perubahan secara besar-besaran baik dari segi teknologi, sosioekonomi maupun budaya telah menghantarkan babak baru bagi peradaban manusia ke jaman serba mesin, automatisasi dan bahkan kini komputerisasi.

Dalam perjalanannya, ternyata ada sisi gelap dari kehidupan manusia yaitu peperangan, seperti Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II yang terjadi Perang Dingin (1945-1989). Kebanyakan orang menilai peperangan itu disebabkan oleh perang kepentingan semata, namun tidak sedikit pula yang menyalahkan karena adanya perbedaan keyakinan dalam agama, seperti dalam Perang Salib yang dimulai oleh kaum Kristiani (1095–1291). Terlepas dari itu semua, sebenarnya peperangan dalam upaya meng-kudus-kan kepentingan ego tertentu dengan manafikan secara radikal ego orang lain merupakan nilai universal dari sisi negatif manusia yang terbatas dalam hal ke-materi-annya.

Hubungannya dengan teknologi dimana alih-alih diperuntukan untuk memudahkan dan mensejahterakan kehidupan umat manusia, namun dalam kenyataannya tidak terbantahkan lagi justru dengan kemajuan teknologi ini manusia semakin menjadi keji, kejam dan tak kenal kasihan dalam melakukan peperangan. Teknologi seperti hanya semata-mata sebagai pelayan pemenuhan hawa nafsu, kebodohan dan keserakahan belaka, teknologi pulalah yang memberikan manusia kemampuan untuk memusnahkan bangsa spesiesnya sendiri secara massal. Selain peperangan, dampak negatif dari keberadaan teknologi tidak berhenti disitu, kita dapat melihat bahwa tindak terorisme, tindak kriminial, tindak asusila, kebohongan, perjudian, dan masih banyak lagi tindak penyimpangan sosial yang merupakan penyakit masyarakat sepanjang jaman yang cukup diuntungkan dalam pertumbuhannya dengan keberadaan kemajuan teknologi ini, bahkan alam pun tidak terelakan menjadi korban eksploitasi besar-besaran oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab hingga menyebabkan kerusakan sehingga tidak perlu diragukan lagi, kembali yang menjadi penerima dampak itu ialah umat manusia sendiri. Benarkah peradaban manusia itu semakin membaik? Seperti itu kah tujuan diciptakannya teknologi? Mungkinkah ini semua sebagian dari hal-hal yang ingatkan Allah S.W.T melalui firman-Nya?.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” QS Ar Rum : 41.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” QS Al A’raf : 56.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pencapaian manusia dalam peradabannnya akan kemajuan teknologi ini, namun lain halnya dalam upaya pemanfaatan manusia terhadap teknologi. Dalam sebuah buku karya Samuel Huntington (1997) The Clash of Civilizations  (Benturan Peradaban)”, menyatakan bahwa konflik yang terjadi antar peradaban melainkan benturan yang terjadi atarnilai. Sehubungan dengan hal itu, Fritjof Capra (1998) dalam bukunya The Turning Point: Science, Technology and The Raising Culture (Titik Balik Peradaban)” menyampaikan “Visi Realitas Baru yang antara lain berintikan pandangan hidup, sistem kehidupan, dan keutuhan hidup (Mulyana, 2004:iii)[1] yang bertitik tolak dari keutuhan hidup dan sistem kehidupan manusia, baik secara lokal, regional, nasional maupun internasional berdasarkan nilai-nilai universal seperti kebenaran, keadilan, kejujuran, kebajikan, kearifan, kasih sayang, dan lain sebagainya. Lalu dimanakah peran agama selama ini, bukankah muatan nilai-nilai tersebut yang dibawa selama ini oleh agama? Atau benar agamalah yang justru menyeret umat manusia kedalam kehancuran seperti melalui peperangan? Tidak adakah nilai-nilai yang menjadi landasan kesadaran manusia dari agama dalam berperilaku yang layak bagi dirinya, sesamanya dan alam sekitarnya?.

Kita selaku umat Islam yang meyakini agamanya sebagai Rahmatan lil’alamiin yang memuat nilai-nilai universal tersebut perlu menegaskan bahwa Pertama, agama ini tidak menjadikan peperangan sebagai cara untuk hidup namun lain halnya jika dalam upaya bertahan hidup dari ancaman dan serangan luar. Kedua, dalam kaitannya dengan teknologi, selain kedudukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bukan saja diterima melainkan dianjurkan serta dalam hal pemanfaatannya Islam melalui syariatnya yang suci memandang penting hal tersebut. Ketiga, Islam memandang perkembangan IPTEK sebagai roda peradaban manusia tidaklah cukup menjadikan manusia itu sempurna dalam hidupnya jika tidak disertai dengan sikap takwa sebagai jaminan dari keselamatan hidup dirinya sendiri dengan sesamanya bahkan alam sekitarnya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” QS Al-Imran 190-191.

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” QS Shaad : 27.

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS Al-Mujadilah 11.

“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” QS Faathir 27-28.

Dalam kaitan keberadaan dan kedudukan ilmu pengetahuan, khususnya teknologi dengan Islam sebagai sistem nilai merupakan pembahasan para pakar dan ulama yang amat beragam dan kompleks serta terus berkembang sampai saat ini, namun penulis dalam kesempatan ini lebih tertarik untuk mengangkat tema tertentu di wilayah teknologi informasi dan komunikasi yang aplikatif dan kontekstual bagi masyarakat muslim ditanah air. Perkawinan antara teknologi transmisi mutakhir dengan komputer telah melahirkan sebuah era baru, yaitu era informasi yang tidak terkecuali bangsa Indonesia yang turut serta di dalamnya.  Collin Cherry[2] mengungkapkan perkembangan teknologi komunikasi yang cepat dewasa ini dapat disebut dengan istilah explosion, yaitu Pertama, secara potensial teknologi komunikasi dapat menjangkau seluruh permukaan bumi hanya dalam tempo sekejap. Kedua, jumlah pesan dan arus lalu lintas informasi telah berlipat ganda secara geometrik. Kegita, kompleksitas teknologinya sendiri semakin canggih (shopisticated) baik perangkat lunak maupun perangkat kerasnya. Berdasarkan dampak dari perkembangan teknologi tersebut, maka masyarakat muslim di Indonesia sekalipun tidak terkecuali masuk ke dalam era masyarakat informasi. Dengan arus informasi yang pesat dan besar secara kapasitas, dalam hal ini tentunya perlu memerhatikan pengendalian yang tepat sebagai upaya dari perlindungan terhadap informasi-informasi yang kurang baik tentunya.

Pentingya tentang sistem informasi ini dengan kaitannya terhadap masyarakat, Ziauddin Sardar[3], menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tentang masyarakat dipengaruhi oleh empat jenis sistem informasi yang membentuk sifat dan karakternya, yaitu 1. Weltanschauung (pandangan dunia) yang mengaitkan kosmologi dan etika baik itu berorientasi teistik (ketuhanan) maupun non-teistik 2. Tentang pengetahuan masyarakat (nasionalisme) 3. Lembaga-lembaga sosial, dan 4. Filsafat atau cara pandang pribadi. Oleh karena itu pengendalian akan arus informasi dan komunikasi dalam sudut pandang Islam ialah dengan tetap memperhatikan tujuh konsep pokok yaitu keesaan, ilmu dan pengetahuan, hikmah/kebijakan, keadilan, konsesus/keumuman, musyarawah, kemashlahatan umum, dan persatuan.

Kembali kepada fokus tema yang akan diambil penulis yaitu mengenai teknologi informasi dan komunikasi yang aplikatif dan kontekstual bagi masyarakat muslim ditanah air yang melibatkan permasalahan pengendalian didalamnya menurut konteks ke-islam-an tentunya memerlukan beberapa atau salah satu bentuk dari teknologi itu sendiri yang dijadikan sebagai batasannya. Penulis memilih bentuk teknologi yang dimaksud ialah televisi. Hal ini bukan tanpa dasar, melainkan berdasarkan kepada beberapa pertimbangan berikut: Pertama, di masyarakat Indonesia menonton televisi[4] diartikan sebagai kegiatan meluangkan waktu dan perhatian untuk menonton salah satu atau beberapa acara yang disajikan dalam televisi sehingga mengerti dan menikmatinya yang dimana persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang menonton televisi dari 2003-2009 misalnya terus meningkat dari 84.94% (2003), 85.86% (2006), dan mencapai 90.27% (2009) dari jumlah total penduduk Indonesia sebanyak 237,641,326 jiwa. Hal ini menunjukan bahwa hampir seluruh warga negara ini mengkonsumsi informasi melalui media televisi. Kedua, kurangnya tayangan televisi yang mengangkat tema pendidikan, lingkungan maupun nilai-nilai spiritual dalam setiap muatan filmnya (misal sinema/sinetron) ketimbang bersifat bisnis dan hiburan semata yang dimana itu pun notabenenya lebih mengadopsi acara televisi dari luar negeri yang jelas berbeda sistem nilai dan budaya dengan Indonesia merupakan kekhawatiran tersendiri. Sekedar menunjukan bagaimana perolehan keuntungan dari dunia per-televisi-an dan bisnis hiburannya, mari kita lihat tabel berikut[5]:

Tabel 1  Perolehan Iklan Televisi di Indonesia Tahun 1999 – 2003 (juta rupiah)

Stasiun

1999 (%)

2000 (%)

2001 (%)

2002 (%)

2003 (%)

SCTV

885.998 (25,7)

1.214.666 (24,6)

1.591.885 (24,8)

1.712.839

(20,4)

2.072.831 (17,8)

RCTI

954.728 (27,7)

1.251.815 (25,4)

1.420.508 (23,5)

1.878.807 (22,4)

2.050.746 (17,6)

Indosiar

937.712 (24,3)

1.330.996 (27,0)

1.609.870 (26,6)

1.898.224 (26,6)

1.949.476 (16,7)

Trans TV

_

_

_

652.061

(7,8)

1.388.302 (11,9)

TPI

446.832 (13,0)

819.958 (16,6)

905.144 (14,9)

916.807 (10,9)

936.565 (8,0)

TV7

_

_

22.183

(0,4)

205.226

(2,4)

838.516 (7,2)

Global TV

_

_

_

311.208

(3,7)

742.824 (6,4)

Metro TV

_

17.788

(0,4)

243.004

(4,0)

438.085

(5,2)

521.806 (4,5)

LATIVI

_

_

_

155.526

(1,9)

502.984 (4,3)

ANTV

323.369

(9,4)

297.816

(0,6)

331.001

(5,5)

158.967

(1.9)

449.236 (3,9)

JTV

_

_

23.276

(0,4)

54.336

(0,6)

148.337 (1,3)

TVRI

_

_

_

_

44.677

(0,4)

Bali TV

_

_

_

_

13.307

(0,1)

Total

3.548.683 (100)

4.933.039 (100)

6.146.871 (100)

8.382.086 (100)

11.659.607 (100)

B.  Teori Komunikasi

Seperti yang dapat dipahami bersama bahwa komunikasi dalam kontak sosial masyarakat senantiasa membandingkan sejauh mana pesan yang disampaikan dengan pesan yang dapat diterima baik dari segi jumlah maupun daya serap informasi yang dapat dimengerti, dalam hal ini tinjauan yang dilakukan bukan hanya dari segi keefektifan semata melainkan juga tingkat efesiensinya. Komunikasi[6] secara leksikal berarti pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Secara bahasa komunikasi berarti bersama-sama (common, commoness: Inggris) berasal dari bahasa Latin yakni communicatio yang berarti pemberitahuan, pemberian bagian  (dalam sesuatu), pertukaran. Sedangkan menurut Claude Shannon dan Warren Weaver (1949)[7], dalam karyanya Mathematical Theory of Communication, melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi sebagai proses yang dimana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding). Titik perhatiannya terletak pada akurasi dan efisiensi proses.

Komunikasi yang dimaksud dalam Islam tentunya bukan hanya komunikasi secara horizontal kepada sesama namun juga komunikasi yang terjadi secara vertikal antara Pencipta yaitu Allah S.W.T dengan kita sebagai hamban-Nya. Para pemikir muslim telah mengembangkan teori-teori komunikasi yang menjadi komunikasi alternatif yang kemudian kita sebut sebagai Komunikasi Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan fitrah penciptaan manusia. Adapun komunikasi Islam menitikberatkan akan adanya unsur-unsur nilai ke-islam-an dari pada komunikator ke komunikannya yang sesuai dengan Al-Quran dan Al-Hadist. Dalam konteks tersebut Madjid Tehranian[8], mengungkapkan bahwa dalam prepektif Islam komunikasi haruslah dikembangkan melalui Islamic World-View yang selanjutnya menjadi asas pembentukan teori komunikasi Islam seperti aspek bahwa kekuasaan mutlak hanyalah milik Allah, serta peranan institusi ulama dan masjid sebagai penyambung komunikasi dan aspek pengawasan syariah yang menjadi penunjang kehidupan muslim. Kualitas komunikasi yang dimaksud pun menyangkut nilai-nilai kebenaran, kesederhanaan, kebaikan, kejujuran, integritas, keadilan, ke-sahih-an pesan dan sumber yang ditegakkan atas sendi hubungan Islamic Tringular Relationship yaitu antara Allah, Manusia, dan Masyarakat. Adapun Methatheory yang dapat diketengahkan dari aspek epistemologi, ontologi, dan presfektifnya dapat dimulai dari pembenahan aspek nilai-nilainya yang berdasarkan tauhid, persatuan umat dengan adanya persamaan makna, serta orientasi kebahagiaan hidup akhirat sebagai tujuan akhirnya. Mengenai prinsip dan etika tata cara berkomunikasi, ada baiknya kita memperhatikan ayat-ayat Al-Quran sebagai berikut:

 
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” QS An-Nuur 19.
 
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS Al-Hujaraat 6.
 
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” QS Al-Israa’ 36.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” QS An-Nahl 90 & 116.
 
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf (segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah) dan mencegah dari yang munkar(segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya); merekalah orang-orang yang beruntung.” QS Ali-Imran 104.

C.   Media Dan Penyiaran Televisi

Pada umumnya kita sudah tidak asing lagi mendengarkan istilah media, bahkan dalam keseharian pun kita tidak terlepas dengan media baik dalam menyampaikan maupun dalam memperoleh informasi tertentu. Definisi mendasar dari media dapat kita pahami bahwa media komunikasi ialah perantara dalam penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikan yang bertujuan untuk efisiensi penyebaran informasi atau pesan tersebut. Menurut Heinich[9] bahwa ”media” merupakan alat komunikasi. Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata ”medium” yang secara harfiah berarti ”perantara” yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver). Sedangkan fungsi media komunikasi itu sendiri menurut Burgon & Huffner (2002)[10], yakni efisiensi penyebaran informasi (baik dari segi biaya, tenaga, pemikiran dan waktu), memperkuat eksistensi informasi, mendidik/mengarahkan/persuasi, menghibur/entertaint/joyfull, dan sebagai kontrol sosial.

Begitupun dengan penyiaran merupakan hal yang cukup familiar bagi masyarakat kita. Penyiaran menurut JB. Wahyudi (1996)[11] adalah “semua kegiatan yang memungkinkan adanya siaran radio dan televisi yang meliputi segi ideal, perangkat keras dan lunak yang mengunakan sarana pemancaran atau transmisi, baik di darat maupun di antariksa, dengan mengunakan gelombang elektromagnetik atau jenis gelombang yang lebih tinggi untuk dipancarluaskan dan dapat diterima oleh khalayak melalui pesawat penerima radio atau televisi, dengan atau tanpa alat bantu”. Sedangkan siaran itu sama artinya dengan broadcast yang dalam Undang-undang No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran adalah “pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, atau suara dan gambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang dapat diterima melalui perangkat penerima siaran”. Sedangkan Penyiaran yang disebut broadcasting memiliki pengertian sebagai; “kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan mengunakan spektrum frekuensi radio (sinyal radio) yang berbentuk gelombang elektromagnetik yang merambat melalui udara, kabel, dan atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran”. Dari sudut pandang penyiaran sebagai media, Malvin L. DeFleur & Everet E. Dennis, Understanding Mass Communication, (1985).[12], yakni sebagai jenis media massa yang menggunakan instrument elektromagnetik dalam menyampaikan pesan ke audiensnya secara simultan.

Dari beberapa keterangan tersebut, setidaknya ada dua teknologi media massa yang dimaksud dalam media penyiaran, yaitu radio dan televisi. Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Pada teknologi televisi ada beberapa orang ahli yang telah berjasa menemukannya[13]. Prinsip televisi ditemukan oleh Paul Nipkow seorang ahli dari Jerman pada tahun 1884. Dilanjutkan Vladimir Zworkyn tahun 1928 yang menemukan tabung kamera atau iconoscope. Tabung kamera bekerja mengubah gambar dari bentuk optis ke dalam sinyal elektronis untuk selanjutnya diperkuat dan ditumpangkan ke dalam gelombang radio. Dengan dibantu Philo Fransworth akhirnya terbentuk pesawat televisi pertama yang ditunjukan dimuka umum pada pertemuan World’s Fair pada tahun 1939 dan sebagai media massa baru lahir pada tahun 1946, ketika khalayak dapat menonton siaran rapat Dewan Keamanan PBB New York (Amir, 1999). Sampai pada tahun 1956 dimana Ampex Corporation berhasil menemukan video tape recorder yang mampu menyimpan suara dan gambar. Sehingga seluruh siaran televisi berbentuk tidak siaran langsung lagi karena dapat direkam oleh video tape untuk disiarkan tunda.

Sejarah perkembangan televisi di Indonesia ditandai dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang berdiri pada tanggal 24 Agustus 1962 ketika diadakannya siaran langsung Asian Games ke-4 di stadion Gelora Bung Karno. TVRI memiliki 24 stasiun penyiaran di seluruh Indonesia yang masing-masing memiliki jam siaran lokal di daerah coverage-nya. Sejak tahun 1989 selain TVRI telah ada ratusan televisi swasta lokal, komunitas dan berlangganan yang menyiarkan bersama-sama di wilayah negeri Indonesia. Adapun televisi berdasarkan jenisnya dapat dibagi sebagai berikut[14]:

  1. Televisi analog, mengkodekan informasi gambar dengan memvariasikan voltase dan/atau frekuensi dari sinyal. Seluruh sistem sebelum Televisi digital dapat dimasukan ke analog. Dengan dua sistem yaitu NTSC (National Television System(s)) dan PAL (Phase-Alternating Line, phase alternation by line atau untuk phase alternation line).
  2. Televisi digital (bahasa Inggris: Digital Television, DTV) adalah jenis TV yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyebarluaskan video, audio, dan signal data ke pesawat televisi. Televisi resolusi tinggi atau high-definition television (HDTV), yaitu: standar televisi digital internasional yang disiarkan dalam format 16:9 (TV biasa 4:3) dan surround-sound 5.1 Dolby Digital.
  3. Televisi kabel adalah sistem penyiaran acara televisi lewat frekuensi radio melalui serat optik atau kabel coaxial dan bukan lewat udara seperti siaran televisi biasa yang harus ditangkap antena.
  4. Televisi satelit adalah televisi yang dipancarkan dengan cara yang mirip seperti komunikasi satelit, serta bisa disamakan dengan televisi lokal dan televisi kabel.

Televisi sebagai bagian dari bentuk teknologi dalam hal ini tentunya Islam sebagai sistem nilai memiliki pandangan. Adapun pandangan Islam tentang teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu Qs. Al-‘Alaq: 1-5. Menurut Prof. Dr. Quraisy Syihab[15], istilah dari iqra trambil dari kata menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak.

Al-Quran memberikan isyarat kepada manusia mengenai cara perolehan dan pengembangan ilmu, yaitu Allah mengajar dengan perantara yang telah diketahui manusia sebelumnya (alat atau atas dasar usaha manusia) dan mengajari manusia yang belum mengetahui sebelumnya. Hal ini bisa ditinjau dari adanya unsur subjek dan objek dalam pengetahuan dan dimana secara umumnya subjeklah yang memahami objek. Namun ada pengalaman ilmiah yang menunjukan bahwa objek dari pengetahuan itu sendirilah yang memperkenalkan dirinya pada subjek, seperi komet Halley yang memasuki cakrawala sejenak setiap 76 tahun. Selain itu ayat naqli lain dari diperintahkannya manusia untuk meneliti dan memperhatikan alam dapat di lihat pada Qs. Al-Imran: 190-191. Adapun hadist nabi mengenai pentingnya ilmu pengetahuan dapat kita perhatikan dari Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan lain-lain dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah Saw. Bersabda yang artinya “Barangsiapa berjalan di suatu tempat guna menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Syurga”.

Dalam kesempatan yang lain, untuk menunjukan pentingnya keberadaan ilmu dalam mempengaruhi nilai dari suatu amal seseorang di hadapan Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Tholib, Rasullullah SAWW., bersabda[16] “Wahai Ali, ada tiga hal yang apabila seseorang yang tidak memilikinya maka amalnya tidak akan membaik; wara’ yang mencegahnya dari berbuat maksiat kepada Allah, ilmu yang menyelamatkannya dari sikap bodoh orang jahil dan akal yang dengannya ia bergaul secara baik dengan masyarakat”. Berkenaan dengan amal ibadah, keberadaan ilmu menurut Nabi memiliki posisi sebagai berikut “Keutamaan ilmu lebih aku sukai daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah wara’ ”. Bahkan dalam hal muammalah pun kebaradaan ilmu itu merupakan hal yang penting keberadaanya sebagaimana Nabi bersabda “Barangsiapa yang bekerja tanpa dilandasi dengan ilmu maka pekerjaannya lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya”. Seraya mengulang sabda Nabi SAWW., Amirul Mukminin Imam  Ali bin Abi Tholib telah memberikan nasihat yang sama kepada sahabatnya mengenai ilmu sebagai landasan setiap tindakan, yaitu “Wahai Kumail, tidak ada suatu tindakan pun kecuali engkau memerlukan ilmu di dalamnya”.

Islam selain memposisikan penting IPTEK baik dari kedudukannya maupun keutamaan dalam mencarinya, secara historik para cendikiawan muslim terkemuka telah membuktikan kepada umat manusia peranannya dalam IPTEK, seperti Ibnu Sina dalam bidang ilmu kedokterannya yang dimana karya mognum opusnya al-Qanun fi al-Thib menjadi sumber rujukan primer di berbagai universitas dunia. Sekitar tahun 1000, seorang dokter Al Zahrawi mempublikasikan 1500 halaman ensiklopedia berilustrasi tentang operasi bedah yang digunakan di Eropa sebagai referensi medis selama lebih dari 500 tahun. Di abad ke-9, Abbas ibn Firnas adalah orang pertama yang mencoba membuat konstruksi sebuah pesawat terbang dan menerbangkannya dalam bentuk kerangka sayap pada konstum burung. Lalu tidak ketinggalan di bidang matematika, kata aljabar berasal dari judul kitab matematikawan terkenal Persia abad ke-9 ‘Kitab al-Jabr Wal-Mugabala’, yang diterjemahkan ke dalam buku ‘The Book of Reasoning and Balancing’. Matematikawan lainnya Al-Khwarizmi juga yang pertama kali memperkenalkan konsep angka menjadi bilangan. Di bidang fisika yaitu tahun 1.000 Ibn al-Haitham membuktikan bahwa manusia melihat obyek dari refleksi cahaya dan masuk ke mata, mengacuhkan teori Euclid dan Ptolemy bahwa cahaya dihasilkan dari dalam mata sendiri. Tak ketinggalan di bidang teknik, Al-Jazari pada abad ke-12 dengan menemukan teknologi prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot. Tidak hanya itu sebenarnya masih banyak cendikiamuslim lain yang berperan penting dalam perkembangan IPTEK bahkan sampai saat ini walaupun dengan kapasitas yang berbeda.

D.     Pendidikan Nilai dan Karakter

Pendidikan dituntut untuk memiliki wawasan pemikiran ke depan dan mampu membaca peluang dan tantangan global. Di samping itu, harus mampu memelihara perilaku etik pribumi yang harus dipertahankan sesuai dengan keanekaragaman dan keunikan yang dimiliki. Sastrapratedja (dalam K. Kaswardi, 1993: 3)[17] menyatakan bahwa untuk menjadikan suatu bangsa berpredikat ganda seperti itu, tidak hanya memerlukan pengembangan ilmu, keterampilan, dan teknologi, tetapi juga memerlukan pengembangan aspek-aspek lainnya, seperti kepribadian dan etik-moral.

Pendidikan nilai atau moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Pendidikan nilai merupakan bagian internalisasi nilai-nilai akhlak manusia secara umum. Dalam hal ini Islam telah menyebutkan secara rinci dan sangat luas tentang nilai-nilai akhlak yang sangat berguna bagi umat manusia dalam kehidupannya di dunia dan di akhirat. Pendidikan nilai/moral di istilahkan dalam Islam secara tepat menjadi Akhlaq, Secara etimologis Akhlak berasal dari kata “akhlaq” yang merupakan jama’ dari “khulqu” dari bahasa Arab yang artinya: tingkah Laku, budi, tabiat dan adab. Adapun secara istilah menurut Abu Hamid Al Ghozali[18] “Akhlaq adalah sesuatu yang menggambarkan tentang prilaku seseorang yang terdapat dalam jiwa yang baik, yang darinya keluar perbuatan secara mudah dan otomatis tanpa terpikir sebelumnya. Dan jika sumber prilaku tersebut didasari oleh perbuatan yang baik dan mulia yang dapat ditinjau (dibenarkan) oleh akal dan syari’at maka ia dinamakan akhlaq yang mulia, namun jika sebaliknya maka ia dinamakan akhlaq yang tercela”. Dikesempatan lain seraya menguatkan dari segi sistem nilai, menurut Abu Ridho yang dimaksud akhlak Islam adalah seperangkat tindakan dan suluk (prilaku) serta gaya hidup yang terpuji yang merupakan repleksi dari nilai-nilai Islam yang telah menjadi keyakinan dan keperibadiannya dengan motivasi semata-mata keridhaan Allah SWT.

Dalam perspektif sejarah filsafat[19], nilai merupakan suatu tema filosofis yang dimulai pada akhir abad ke-19 , yaitu sejak Plato menempatkan ide “baik” paling atas dalam hierarki nilai-nilai  (Bartens, 2004:12). Kurt Baier (UIA, 2003: 10) mengemukakan bahwa nilai adalah suatu kecenderungan perilaku yang berawal dari gejala-gejala psikologis, seperti hasrat, motif, sikap, kebutuhan dan keyakinan yang dimiliki secara individual sampai pada wujud tingkah lakunya yang unik. Sedangkan Allport menyatakan bahwa nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya. Bagi Allport nilai terjadi pada wilayah psikologis kepribadian (Allport, 1964: 4). Adapun Kluckhon (Mulyana, 2004:5) lebih panjang merumuskan tentang nilai. Ia mendefinisikan nilai sebagai konsepsi dari apa yang diinginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan. Sementara Bramel (Mulyana, 2004:5) mengungkapkan bahwa definisi itu memiliki banyak implikasi terhadap pemaknaan nilai-nilai budaya dalam pengertian lebih spesifik. Implikasi yang dimaksud adalah:

  1. Nilai merupakan konstruk yang melibatkan proses kognitif (logis dan rasional) dan proses katektik (ketertarikan atau penolakan menurut kata hati).
  2. Nilai selalu berfungsi secara potensial, tetapi selalu tidak bermakna apabila diverbalisasi.
  3. Apabila hal itu berkenan dengan budaya, nilai diungkapkan dengan cara yang unik oleh individu atau kelompok.
  4. Karena kehendak tertentu dapat bernilai atau tidak, maka perlu diyakini bahwa nilai pada dasarnya disamakan daripada diinginkan, ia didefinisikan berdasarkan keperluan sistem kepribadian dan sosial budaya untuk mencapai keteraturan atau untuk menghargai orang lain dalam kehidupan sosial.
  5. Pilihan di antara nilai-nilai alternatif dibuat dalam konteks ketersediaan tujuan antara means dan ends, dan
  6. Nilai itu ada, ia merupakan fakta alam, manusia, budaya dan pada saat yang sama ia adalah norma-norma yang telah disadari.

Sedangkan Istilah karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin “character”, yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak (Oxford). Sedangkan secara istilah, dari “The stamp of individually or group impressed by nature, education or habit[20]. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Menurut John P. Miller (1976: 5)[21], gambaran kepribadian menunjukkan beberapa karakteristik. Pertama, pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan. Maksudnya, ia memandang hidupnya sebagai suatu proses menjadi dan berusaha memilih pengalaman-pengalaman yang mengakibatkan perkembangan tersebut. Kedua, pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan identitasnya. Dia dapat mengenal dan menjelaskan nilai-nilai dan keyakinan yang ia percayai dan menegaskannya secara terbuka, sejauh nilai-nilai itu menjadi kesatuan dengan jati dirinya. Ketiga, pribadi yang terintegrasikan senantiasa terbuka dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Dia tidak memutuskan diri dari orang-orang dan dia dapat mengkomunikasikan rasa empatinya secara jelas terhadap orang lain. Keempat, pribadi yang terintegrasikan menggambarkan suatu kebulatan kesadaran. Dia merasakan suatu keseimbangan antara hati dan pikirannya. Ia mengalami rasa keutuhan pribadinya. Dia dapat menggunakan daya kemampuan intuisi, imajinasi, dan penalarannya.

Ada pandangan yang menyatakan bahwa tujuan mendasar atau tujuan akhir dari pendidikan itu ialah tercapainya manusia utuh yang bermoral/berkarakter mulia. Hal ini diungkapkan oleh Driyakarya :”Tujuan pendidikan adalah menjadikan peserta didik ‘manusia yang utuh sempurna’ atau ‘manusia purnawan’ (Driyarkara, 1980:129).  Tercapainya kesempurnaaan di tunjukkan terbentuknya “Pribadi yang bermoral” atau “moral characters” (Montemayor, 1994:11). Dimana pribadi bermoral yang dimaksud adalah yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Oleh karenanya tidak heran jika seorang Ulama Besar yakni Hujjatul Islam Ayyatullah Sayyid Ahmad Khomeini (1989)[22] memandang bahwa setiap gerakan sosial termasuk pendidikan didalamnya, mesti bertujuan mendidik masyarakat. Ide pendidikan dalam Islam ialah menyempurnakan manusia atas keluhuran dan kesucian jiwanya. Hal ini sesuai dengan tafsir Qs. Asy-Syams: 9-10.

 
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Bahkan hal ini pun merupakan maksud yang berada di balik falsafah pengutusan para nabi, khususnya nabi Muhammad SAWW. Sebagaimana Hadist Nabi yang berbunyi “Sesungguhnya aku (Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘alihi was sallam) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat yang lain dengan lafadz untuk memperbaiki akhlak)” [HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 273 lihat juga Imam Malik, al-Muwattha’, no. 1723].

Selanjutnya al-Syaibani (1979:399)[23] menjabarkan tujuan Pendidikan Islam secara umum dengan mengklasifikasikannya ke dalam tiga tujuan asasi sebagai berikut: 1. Tujuan-tujuan individu yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan setiap individu berupa pengetahuan, perubahan tingkah laku, pertumbuhan kedewasaan, serta kesiapan-kesiapan yang sudah semestinya dimiliki dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat; 2. Tujuan sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan; 3. Tujuan-tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, seni, profesi dan aktivitas dalam masyarakat.

Dengan kejelasan pembahasan mengenai pentingnya pendidikan nilai dan moral (akhlak) pada pembentukan karakter masyarakat memerlukan tindak lanjut lebih jauh. Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, (2008: 36-37)[24]  meliputi pendekatan (i)  inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv)  skill development,  yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif. Yang ditekankan dalam pendidikan nilai adalah keseluruhan proses pendidikan nilai yang sangat kompleks dan menyeluruh yang melibatkan cakupan yang luas dan beragam variasi yang dialami. Oleh karena itu, pendidikan nilai tidak dapat diserahkan begitu saja ke lembaga-lembaga pemerintahan terkait seperti Departemen Pendidikan Nasional atau sekalipun Departemen Agama, bahkan harus lebih jauh dari itu Negara terlibat disamping mengoptimalkan peran serta masyarakat diantaranya elemen-elemen kelembagaan agama masyarakat dengan format yang  beragam dari berbagai pihak yang mengintegrasikan secara sendiri-sendiri atau dengan kombinasi.

Untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung. Metode langsung sebagai pendekatan inculcating mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Hal ini dapat diterapkan melalui kurikulum baku pendidikan baik formal maupun non-formal, baik itu pendidikan dalam sekolah maupun luar sekolah dan aplikasi-aplikasi pendidikan lainnya yang ada pada masyarakat seperti pesantren sampai termasuk ke dalam satuan unit yaitu pendidikan keluarga.

Sedangkan untuk metode tidak langsung bagi tiga pendekatan lainnya yaitu modelling, facilitating, dan skill development dapat diterapkan secara hiddent curriculum baik dari segi Hukum dan Perundang-undangan, co-curriculum (lingkungan, aturan, isntrument, dll), peraturan-peraturan pemerintah baik pusat maupun daerah, serta pembudayaan pada masyarakat. Namun perlu diingat, Pertama,  Negara kita merupakan negara yang berazaskan Pancasila yang berke-Tuhan-an Yang Maha Esa, dan ada 4 agama lainnya selain Islam yang dijadikan agama resmi negara ini. Kedua, pendidikan nilai yang dimaksud tentunya lebih ke esensi ketimbang simbol-simbol tertentu yang hubungannya agama sebagai sumber dari nilai yang dimaksud. Lagi pula nilai yang universal pasti dimiliki oleh seluruh agama yang ada. Ketiga, indoktrinasi merupakan kegiatan sadar yang bersifat ideologis oleh suatu bangsa, sehingga memiliki sifat mengikat dan memaksa sebagaimana hukum. Adapun sikap suka rela (voluntary action) dari masyarakat sebagai subjek pendidikan nilai tetap dilakukan dengan cara demokratis melalui mekanisme yang telah disepakati sebelumnya. Kelima, keteladanan masing-masing atas komitmen nilai dari para pihak terkait baik itu Pemerintah, Pejabat, Tokoh Masyarakat, Agamawan, Para Pelajar-Mahasiswa, Guru, Orang tua, Cendikiawan, Ilmuwan, Insan Pers, Insan Perfilman, Ekonom, Seniman, Profesional lainnya dan masyarakat umumnya akan nilai moral/ akhlak yang baik sebagai upaya karakter ideal bersama merupakan faktor penentu yang utama.

E.     Media Penyiaran Televisi Sebagai Produk Seni, Sains Dan Teknologi

Televisi sebagai bagian dari teknologi komunikasi secara jelas dapat kita tangkap merupakan produk dari sains dan teknologi, namun dari sisi hasil ekpresi (ungkapan rasa) dan kreasi manusia, baik itu untuk televisi sebagai suatu benda seni maupun kesenian dari isi (content) yang dapat disajikan oleh teknologi televisi melalui penyiarannya menunjukan bahwa televisi pun merupakan produk dari seni. Manusia yang berbudaya senantiasa menciptakan simbol-simbol dan karya benda yang akan selalu meliputi dua sisi yaitu, benda yang memiliki unsur seni dan benda sebagai teknologi.

Khusus mengenai seni, ada seorang Ulama Besar Umat Islam yang senantiasa memberikan perhatiannya atas perkara ini, bahkan kononnya sang Ulama Besar ini pun pernah berkecimpung di dunia seni dan sastra sewaktu muda dalam perjalanan pendidikannya. Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei memberikan pernyataan mengenai seni sebagai berikut:[25] “Kesenian dengan segala jenisnya adalah satu anugerah ilahi. Kesenian memang muncul dalam format ekspresi, tapi ekspresi saja tidak mewakili keseluruhan hakikat seni. Sebelum mencapai tahap ekspresi, seni adalah suatu daya nalar dan kepekaan. Setelah menangkap satu keindahan, daya tarik dan esensi yang terlihat dari seribu titik – yang terkadang manusia biasa tidak akan dapat menangkap satupun diantaranya- seorang seniman dengan naluri seni yang tertanam dalam dirinya dapat mengekspresikan keindahan-keindahan itu secara detail dan substansial. Secara utuh, kesenian adalah suatu pemahaman yang kemudian tertuang dalam bentuk refleksi dan ekspresi”.‎

Kesenian telah menjadi satu instrumen untuk menyampaikan pesan ‎kepada masyarakat, pembentukan opini pada masyarakat tak dapat dilakukan kecuali melalui media seni, ‎termasuk sinema dan media visual. Oleh karena itu seni merupakan media propaganda yang efektif ketimbang sains, percakapan bahkan nasihat (bersifat argumentatif  proposional, seperti ceramah, pidato, orasi, dll). Seni adalah media yang paling ampuh untuk membumikan suatu ‎pemikiran yang mampu menyugesti pikiran ‎audien melalui modus mempengaruhi.  Allah SWT., sendiri dengan kitab suci Al-Quran-Nya memilih ‎cara terbaik ini dalam mengalirkan pesan-pesan makrifat-Nya. Cara yang ‎terfasih melalui bahasa seni yang terindah dan merupakan mukjizat bagi Nabi Muhammad SAWW., yang membawanya sehingga tidak ada satupun manusia baik dari umat terdahulu maupun sekarang dapat menyusun kata-kata sedemikian artistik seperti ‎yang terangkai dalam Al-Quran. Pemahaman ini pun menunjukan bahwa Islam sebagai sistem nilai juga mencakup seni bahkan bagian dari Islam itu sendiri dan jelas tidak dapat mengabaikannya.

Seni (sebagai kebebasan ekspresif) tidak kontradiktif dengan komitmen (tanggung jawab personal), hal ini berdasarkan pada jati diri seniman itu sendiri sebagai bagian dari umat manusia. Hal ini realistis mengingat Pertama, Bakat dan talenta seni sama sekali bukan hasil jerih payah seorang seniman, ‎melainkan satu anugerah yang diberikan kepadanya. Kedua, Seperti nikmat dan anugerah berharga lainnya, seni adalah satu hakikat bernilai ‎yang juga tidak bebas dari tanggungjawab. Seni adalah bagian dari anugerah Ilahi ‎yang tersisipi oleh keharusan menunaikan kewajiban (taklif). Ketiga, Taklif tidak selalu ‎berhulu pada agama dan syariat. Sebaliknya, tidak sedikit taklif yang berhulu pada ‎hati nurani manusia. Keempat, tanggung jawab dan komitmen seorang seniman berhulu ‎kepada jatidirinya sebagai manusia sebelum bermuara pada statusnya sebagai ‎seniman. Manusia tidak mungkin lepas dari tanggung jawab. ‎Dan tanggung jawab sosok seniman adalah tanggungjawabnya terhadap ‎sesama manusia, lingkungan dan alam ‎semesta.

Lalu apa hubungannya dengan televisi sebagai media komunikasi. Seniman yang meproduksi konten dari acara pertelevisian baik itu pihak swasta maupun pemerintah harus senantiasa memposisikan dirinya sebagai creator/ seniman yang dapat ditinjau dari jati dirinya sebagai manusia yang luhur dan mulia yakni manusia yang hati dan pikirannya juga luhur ‎dan mulia. Sehingga seluruh hasil dari ekspresi dan kreasinya tidak terlepas dari tema etika dan moral.  Mari kita tengok sebelumnya atas Hadist yang diriwayatkan[26] oleh Imam Ali Zainal Abidin as. “Jiwa dan wujud insaniahmu adalah sesuatu yang paling berharga”. Jiwa insaniah sedemikian berharga sehingga tidak dapat diapresiasi kecuali ‎dengan syurga yang dijanjikan Allah. Sedangkan Kesenian adalah bagian yang paling bernilai dan ‎membanggakan dari jiwa insaniah. Oleh karena itu harus benar-benar dihargai dan digunakan di ‎jalan Ilahi.

Ekspresi seni pun linier dengan taraf intelektualitas seniman tersebut. Hal ini tampak jelas dimana ketika untuk satu tema muatan seni, dua seniman akan menyalurkan naluri dan ekpresinya dengan basis ide yang berbeda-beda. Seniman yang berkomitmen kepada kebenaran senantiasa menjadikan intelektualitasnya sebagai landasan pacu yang mendukung naluri dan ‎ekspresi seninya. Dimana ia akan termotivasi oleh suatu tujuan yang terpikat pada norma-norma kemanusiaan, etika dan keluruhan makrifat ‎religi.

Seni religius adalah kesenian yang mampu mengekspresikan pesan-pesan agama. Seni yang religius tidak harus melulu terjebak dan kaku dengan simbol-simbol keagamaan tertentu, yang terpenting melainkan esensi sprititualitasnya yang dapat tersampaikan seperti keadilan masyarakat, kebahagiaan, hak-hak spiritualitas, ‎keagungan, ketakwaan insani, dan lain sebagainya. Sehingga seni didedikasikan untuk turut membumikan makrifat ‎keagamaan, khususnya Islam. Hal yang menjadi konsen seni ‎religius ialah kesenian jangan sampai didedikasikan untuk melayani dorongan ‎syahwat, kekerasan, amoralitas dan penegasian jatidiri manusia dan masyarakat. ‎Seni adalah salah satu manifestasi keindahan kreasi ilahiah dalam diri manusia. ‎

Dalam trend dunia sekarang, pandangan materialisme terhadap modal dan ‎kekayaan intelektual telah menyebabkan kekayaan ini diukur hanya dari aspek ‎profitabilitasnya. Sebagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi, kesenian mediapun ditimbang hanya ‎dari aspek kemampuannya untuk menghasilkan laba belaka.‎ Oleh karena itu kesenian media yang berkomitmen termasuk media televisi  dengan nilai, moral dan spritualitas atas keluhuran jati diri manusia, hal ini dapat diistilahkan sebagaimana ungkapan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sebagai upaya dari “ketakwaan media”[27]. Ketakwaan media ini bukannlah jargon untuk melakukan sensor dan membatasi ruang gerak dari media tersebut melainkan menunjukan adanya sikap wara’ dan ketakwaan hakiki kepada Allah SWT., dalam mengemban tugasnya sebagai pencerah masyarakat yang berpegang teguh kepada kebenaran (penyampaian maupun isi yang disampaikan) dan nilai-nilai etis serta moral (akhlak). Mengenai pentingnya sikap wara’ itu dimiliki oleh kita selaku muslim, ada baiknya kita perhatikan sabda Rasullullah SAWW., sebagai berikut[28] “Wahai Ali, ada tiga hal yang apabila seseorang yang tidak memilikinya maka amalnya tidak akan membaik; wara’ yang mencegahnya dari berbuat maksiat kepada Allah, ilmu yang menyelamatkannya dari sikap bodoh orang jahil dan akal yang dengannya ia bergaul secara baik dengan masyarakat”. Riwayat lainnya mengenai wara’ sebagai bagian dari agama Islam, Sabda Nabi SAWW., “Keutamaan ilmu lebih aku sukai daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah wara’ ”.

F.     Peran Media Penyiaran Televisi Dalam Konstruksi Budaya Dan Sosial

Media ditinjau dari segi keberadaanya ditengah-tengah masyarakat ialah sebagai komoditi sumber informasi[29] dimana masyarakat memiliki peran aktif dalam menentukan media apa yang akan dikonsumsinya, hal ini sesuai dengan teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan) oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Sebagai komoditi sumber informasi, media tidaklah bebas nilai, melainkan masyarakat senantiasa mengharapkan nilai dari media tersebut, sebagaimana yang diungkapkan oleh Phillip Palmgreen melalui teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory) yang mencoba menyempurnakan teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan) dengan kerangka pemikiran yaitu kepuasan yang masyarakat cari dari media ditentukan oleh sikap masyarakat terhadap media tersebut dimana kepercayaan tentang apa yang suatu medium dapat berikan kepada masyarakat dan evaluasinya tentang bahan tersebut.

Adanya ketergantungan masyarakat akan informasi dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhannya serta mencapai tujuan tertentu serta kondisi sosial dari hubungan yang terjalin antara sistem media dan institusi sosial dengan masyarakat dalam menciptakan kebutuhan dan minat merupakan konsekuensi murni. Hal tersebut sesuai dengan teori Ketergantungan (Dependency Theory), oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Ketergantungan tersebut berpotensi bahwa media massa memiliki peran dalam membentuk karakter masyarakat[30]. Bahkan dalam teori Agenda-setting yang diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972), menyatakan bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat.

Kembali kepada budaya, dimana objek Budaya sendiri tidak harus yang bersifat abstrak seperti nilai/norma dan pemikiran, namun budaya juga bisa berbentuk objek material yang nyata. Televisi, radio dan bahasa bisa di pandang sebagai hasil dari sebuah kebudayaan yang sudah tidak asing dalam masyarakat. Televisi ini mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakat yang termasuk budaya sehingga dengan mudah diterima dan mempengaruhi masyarakat tersebut. Menurut Ma’rat dalam Effendy (2008)[2][31], ”acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan penonton, sebab salah satu pengaruh psikologis televisi seakan-akan menghipnotis penonton sehingga mereka seolah-olah hanyut dalam keterlibatan kisah atau peristiwa yang ditayangkan televisi”. Televisi sangat memiliki daya tarik kuat yang disebabkan unsur-unsur kata, musik dan sound effect serta memiliki unsur visual berupa gambar.

Beberapa pemaparan diatas menjelaskan bahwa teknologi sebagai produk budaya tidaklah bebas nilai melainkan teknologi merupakan hasil kebudayaan, yang dalam proses pembuatannya melibatkan ideologi, nilai-nilai dan pesan-pesan tertentu. Islam yang penuh dengan kemaslahatan bagi manusia tentunya mencapuk segala aspek termasuk budaya. Allah SWT., menciptakan manusia dimuka bumi dengan membawa fungsi sebagai Khalifatullah fil ard[32] (Khalifah Allah di muka bumi) sebagaimana tertuang dalam Qs. Al-Baqarah: 30. Manusia dengan kedudukannya sabagai manifestasi Allah di muka bumi senantiasa diberikan bekal berupa potensi-potensi yang dimana ketika manusia mengaktualkannya dalam bentuk kebudayaan, maka dengan sendirinya kebudayaan yang dimaksud ialah sebagai manifestasi fungsi kekhalifahan manusia yang senantiasa selaras dengan tuntunan pedoman dan norma-norma Islam itu sendiri.

Oleh karena itu dengan memanfaatkan teknologi televisi dalam menjalin komunikasi atas nilai-nilai luhur Islam yang universal sebagai strategi komunikasi  kepada masyarakat luas merupakan hal yang tidak dapat ditolak lagi, dimana televisi telah menjadi alternatif medium sosial yang cukup efektif dan efisien dalam kontruksi budaya dan sosial. Menurut James Lull dalam Mulyana (2008)[3][33], televisi merupakan medium sosial yang memungkinkan anggota khalayak berkomunikasi dan mengkonstruksi strategi untuk memperoleh tujuan pribadi dan social secara luas. Karena itu tayangan televisi akan memberi efek yang lebih kuat daripada media lainnya. Tayangan televisi lebih mampu menembus daya nalar manusia dan menggerakan manusia untuk melakukan berbagai aksi baik dalam arti positif maupaun  negative.

Televisi sebagai medium sosial memiliki kemampuan untuk melontarkan kritik baik pada pemerintah maupun khalayak masyarakat pada umumnya mengenai nilai-nilai kehidupan sehari-hari yang ada, hal ini sebagai bagian dari upaya positif dalam konstruksi sosial.  Menurut Ulama Besar Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei[34] menyatakan bahwa kritikan yang sesungguhnya harus mampu merefeleksikan perjuangan untuk mengunggulkan antara kebaikan atas keburukan supaya terlihat bahwa meskipun ditengah masyarakat atau bangsa terdapat sisi buruk namun tetap masih ada motivasi dan gerakan untuk mengatasinya, misalnya isu mengenai kemiskinan dengan tidak menebar rasa putus asa dan lain-lainnya.

Dari segi control social selain memiliki kemampuan dalam memberikan kritik, media televisi pun memiliki taklif[35] sebagai garda terdepan masyarakat terhadap setiap bentuk pembelaan hak-hak masyarakat dan tameng dari bentuk kedzholiman informasi, sebagaimana tertuang dalam Qs. An-Nisaa’: 148.

 
“Allah tidak menyukai ucapan buruk (sebagai mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, dan sebagainya), (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (orang yang teraniaya oleh mengemukakan kepada hakim atau penguasa keburukan-keburukan orang yang menganiayanya). Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Nabi suci pun mengatakan: “Jihad yang paling baik adalah mengemukakan keadilan dihadapan seorang penindas”. Hadist yang lain, Nabi suci mengatakan, dan Imam Ali telah mengutip dari beliau, “Suatu kaum tidaklah dipandang terhormat sampai orang-orang yang lemah dikalangan meraka berani menuntut hak-hak mereka dari orang-orang yang kuat, tanpa merasa takut”.

Media sebagai bentuk pembelaan hak-hak masyarakat dan tameng dari bentuk kedzholiman informasi, selain mesti memiliki sikap kritis juga mesti memiliki sifat transparan baik itu dalam setiap pengambilan informasi maupun dalam penyajiannya. Adapun transparansi yang dimaksud dalam syariat suci Islam melalui Nabiullah SAWW., telah mengisyaratkannya melalui sabda berikut[36] “Orang yang berakal tidak seyogianya bersikap secara transparan kecuali dalam tiga hal: memperbaiki kehidupan, melangkah untuk (bersiap) menuju hari kiamat, atau menikmati sesuatu yang tidak diharamkan”.  Sabda lainnya yang menunjukan dampak negative dan ancamannya dari ketiadaan bentuk transparansi suatu informasi bagi khalayak guna kebaikan bersama dalam masyarakat dapat kita renungkan melalui sabda Nabi SAWW., sebagai berikut “Berbuat baik pada masyarakat adalah separo keimanan dan bersikap lemah lembut terhadap mereka adalah separo kehidupan”. Selanjutnya Sabda Nabi SAWW., yang lain “Bukan termasuk golongan kami orang yang menipu seorang Muslim, atau membahayakannya atau memperdayanya”.

Dan dari segi change, yaitu perubahan kearah perbaikan terus-menerus seraya memerangi kejahatan dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar. Yang dimana menurut penafsiran[37] dari Imam Baqir as., merupakan basis dari kewajiban-kewajiban agama Islam lainnya, sebagaiman Qs. Ali-‘Imran: 110 berbunyi.

 
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Sedangkan Hadist Nabi suci mengatakan, dan Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Tholib telah mengutip dari beliau, dalam rangka menasehati para sahabatnya mengenai pentingya amar ma’ruf nahi munkar di tengah kehidupan kaum muslimin dengan tetap menjaga semangat persaudaraan ialah sebagai berikut[38] “Berusahalah untuk menasehati saudaramu, baik dalam kebaikan maupun mencegahnya dari keburukan”.

G.    Fungsi Media Penyiaran Televisi Dalam Komunikasi Pendidikan Nilai Dan Karakter

Beberapa ahli menyampaikan definisi[39] komunikasi massa sebagai proses penyampaian informasi dari komunikator melalui media massa dengan segmentasi komunikate/ audience yang luas (publik) pada kesempatan yang sama (Burgon & Huffner, 2002). Atau pendapat yang serupa yakni proses penyampaian informasi dari komunikator melalui interaksi media dengan heterogenitas audience dengan jangkauan waktu dan tempat yang variatif (Susanto, 1985). Seraya menguatkan dari segi audien sebagai penerima, (Effendy, 2008)[40], komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tesebar, heterogen, dan anonym melalui media cetak maupun elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Sedangkan pembentukan opini umum dalam masyarakat itu sendiri, sebagaimana Teori the spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman (1976)[41], terbentuk dari hasil proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang-orang lain dalam masyarakat.

Dalam masyarakat modern, dimana media massa diangap sebagai sistem informasi yang memiliki peran penting dalam proses memelihara, perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat, kelompok, dan individu dalam aktivitas sosial. Berdasarkan teori Dependensi Efek Komunikasi Massa yang dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeachdan Melvin L. DeFluer (1976) menyebutkan aspek-aspek yang dapat dipengaruhi oleh media massa terhadap masyarakat yaitu:[42] Pertama, Kognitif, menciptakan atau menghilangkan ambiguitas, pembentukan sikap, agenda-setting, perluasan sistem keyakinan masyarakat, penegasan/ penjelasan nilai-nilai. Kedua, Afektif, menciptakan ketakutan atau kecemasan, dan meningkatkan atau menurunkan dukungan moral. Ketiga, Behavioral, mengaktifkan atau menggerakkan atau meredakan, pembentukan isu tertentu atau penyelesaiannya, menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas serta menyebabkan perilaku tertentu.

Dari pemaparan diatas, dimana televisi sebagai media komunikasi massa memiliki kemampuan untuk memberikan informasi secara massal dan serentak, serta mampu untuk menggiring opini umum pada masyarakat dengan memiliki peranan yang amat vital bagi perubahan sosial, maka menjadi keharusan bagi kita selaku muslim yang memandang pentingnya penyebaran nilai-nilai universal ke-islam-an yang sesuai dengan kemanusiaan, kebenaran, keadilan, kebaikan dan ketuhanan dalam memanfaatkan teknologi tersebut sebagai media pendidikan nilai dan karakter pada masyarakat.

Sebenarnya upaya menjadikan televisi sebagai media pendidikan telah dilakukan sejak dekade awal munculnya media itu[43]. Pada 1932 State Universirty of Lowa mengembangkan televisi pendidikan dalam bentuk sirkuit tertutup (close circuit). Kemudian New York University  bekerjasama dengan NBC pada tahun 1938 mengujicoba penyelenggaraan siaran Televisi pendidikan. Di Indonesia, usaha untuk menyelenggarakan televisi pendidikan sudah muncul sejak Repelita I (1969). Akan tetapi langkah konkret baru terlihat pada tahun 1978 dengan dibentuknya Pusat Teknologi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekomdikbud). Pada 23 Nopember 1987, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI serta Pengajaran dan Ilmu Pengetahuan Belanda menandatangani naskah kerjasama tentang penggunaan teknologi pendidikan, dan salah satu poin pentingnya adalah dukungan pihak kerajaan Belanda bagi Indonesia untuk menyelenggarakan televisi pendidikan. Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tersebut, pada Mei 1988 berhasil disepakati rencana induk  yang meliputi empat kategori kegiatan, yaitu (1) mediated instrucational system; (2) broadcasted Educational Program; (3) Instrucsional and Communication System Reseach; dan (4) Instrucational Development.

Akan tetapi belum sampai program tersebut direalisasi sudah muncul inisiatif dari pihak swasta, yakni pengusaha Hardiyanti Rukmana yang lebih dikenal dengan sebutan Mbak Tutut berniat mendirikan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) sehingga televisi pendidikan yang menjadi program pemerintah justru tidak dapat direalisasi (Miarso: 2004). TPI gagal dalam menjaga eksistensi sebagai televisi pendidikan telah memberikan presenden buruk bagi pihak lain yang ingin mendirikan televisi pendidikan, sekaligus meninggalkan citra negatif bahwa program-program televisi pendidikan sebagai hal yang membosankan dan tidak menarik untuk ditonton. Di tengah melemahnya minat pihak swasta untuk mendirikan televisi pendidikan, kini pihak Direktorat Jenderal Menengah dan Kejuruan (Dikmenjur) Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia giat merintis penyelenggaraan televisi pendidikan (TVE). Sayangnya, upaya itu tidak didukung oleh payung hukum yang memadai karena UU No.32 Tahun 2002 tentang Penyiaran tidak memberikan hak hidup bagi televisi pendidikan.

Lalu bagaimana dengan tema pendidikan nilai dan karakter melalui televisi tersebut. TVE dirintis pemerintah tentunya telah mengalokasikan muatan materi pendidikan nilai dan moral sebagai karakter bangsa yang tentunya pula berkesesuaian dengan azas Pacasila dan nilai-nilai luhur lainnya termasuk Islam. Stasiun televisi ini khusus ditujukan untuk menyebarkan informasi di bidang pendidikan dan berfungsi sebagai media pembelajaran masyarakat. Visi TVE adalah menjadi siaran televisi pendidikan yang santun dan mencerdaskan. Misi yang diemban adalah menyiarkan program yang mencerdaskan masyarakat, menjadi tauladan masyarakat, menyebarluaskan informasi dan kebijakan-kebijakan Depdiknas, dan mendorong masyarakat gemar belajar.

Namun sebenarnya yang perlu di waspadai bahkan perlu didukung dalam perkembangannya ialah mulai merebaknya tema-tema pendidikan dan religius dalam per-sinemaan dan per-sinetronan, bahkan bentuk tayangan lainnya seperti dokumenter, talk show, per-lawakan dan lain sebagainya, khususnya meledak pada bulan suci Ramadhan, agar tetap selalu menjaga entry point yang menjadi fokus sasaran dalam upaya kontruksi sosial dalam pendidikan nilai dan karakter pada masyarakat ini, yaitu memunculkan nilai-nilai luhur ke-Islmannya ketimbang jargon-jargon dan simbol-simbol kaku yang mudah menjebak kepada bentuk penafsiran yang dangkal dan pembunuhan karakter jiwa manusia dari orientasi ketuhanan ke arah orientasi kebendaan.

Dibawah ini beberapa statiun televisi yang telah merilis acara pendidikan dan religi-nya dan patut mendapatkan sambutan yang positif dengan tetap turut serta mengawasi kualitas dan kesesuaian tema atas keutuhan nilai-nilai yang luhur yang telah dibahas sebelumnya, ialah sebagai berikut:

Tabel 2 Jadwal Acara Statiun Televisi Indoensia untuk Program Pendidikan dan Religius (atau sejenisnya), Tahun 2010.

Statiun Televisi

Acara (2010-an)*

Pendidikan dan Sejenisnya

Religius dan Sejenisnya

TVRI
  • TV Edukasi
  • Budi & Kerti
  • Pesona Fisika
  • Kuis Pintar
  • Pesona Matematika
  • Resensi Buku
  • Sekolah Alam
  • Warna Dunia
  • Keliling Indonesia
  • Tele Dakwah
  • Hikmah Pagi
  • Mimbar Rohani Agama Kristen
  • Mimbar Rohani Agama Katolik
  • Mimbar Rohani Agama Buddha
  • Mimbar Rohani Agama Hindu
  • Lintas Agama
  • Percik Perenungan
  • Mujizat Bersama Tiberias
RCTI
  • -
  • Assalamu’alaikum Ustadz
  • Renungan Malam
-       Renungan Malam-       Kalam Ilahi-       Doa Penutup-        Adzan Ismak (siaran tamat)

  • Minta Tolong
  • Bedah Rumah
  • Ketika Cinta Bertasbih – Spesial Ramadhan
SCTV
  • -
  • Islam KTP
  • Pesantren & Rock n Roll
ANTV
  • -
  • Cahaya Hati
-        Cahaya Hati: Wisata Rohani

  • Titian Iman
INDOSIAR
  • -
  • Mamah & Aa
  • Mari Ke Tanah Suci
  • Muhibah Pesantren
  • Penyejuk Imani
  • Inayah
Trans TV
  • Surat Sahabat
  • Cerita Anak
  • Teropong Iman
  •  Jazirah
  • Perjalanan 3 Wanita
  • Percikan Sanubari
  • Sentuhan Qalbu Khazanah
  • Halal
  • Agama Kristen
Trans 7
  • Jejak Petualang
  • Jejak Si Gundul
  • Asal Usul Fauna
  • Asal Usul Flora
  • Doctor’s File
  • Berburu
  • Basecamp
  • Kisah Anak Nusantara
  • Dunia Air
  • Dunia Binatang
  • Kuas Ajaib
  • Laptop Si Unyil
  • Si Bolang
  • Rahasia Sunnah
  • Harmoni Islam
  • Mata Hati
  • Wara – Wiri Ramadhan
  • Musafir
  • Yusuf Mansur & Unyil
  • Rahasia Sunnah Ramadhan
  • Inspirasi
  • Jangan Menyerah
TPI/MNCTV
  • -
  • Siraman Qalbu
METRO TV
  • Zero to Hero
  • Archipelago
  • Discover Indonesia
  • Special Dialogue
  • Inovator
  • Journalist On Duty
  • Mata Najwa
  • Mario Teguh
  • Oasis
  • Kick Andy
  • -
TV ONE
  • Damai Indonesiaku
  • Tanpa Tanda Jasa
  • Bumi dan Manusia
  • Khatulistiwa
  • Nuansa 1000 Pulau
  • Riwajatmoe Doeloe
  • Tokoh
  • Jejak Islam
  • Tabligh Akbar
  • Titian Kalbu

*) Acara yang dilist dapat dirubah sewaktu-waktu oleh statiun televisi bersangkutan; sumber id.wikipedia.com dan organisasi.org [April 2011].

H.    Kesimpulan

Islam sebagai sistem nilai tentunya merupakan sumber nilai yang sempurna bagi umat manusia dalam memberikan acuan tingkah laku dan interaksi sosial dalam hidupnya, tidak terkecuali sebagai paradigma mendasar dan aman dalam ruang ekspresif dan reflektifnya secara individual. Pemeluk agama ini, tentunya mengakui dan menyadari bahwasyahnya, Islam sebagai sistem nilai telah mencapuk seluruh aspek dalam kehidupannya, termasuk budaya dan kebudayaan dalam kaitannya dengan sains, teknologi dan seni sebagai salah satu produk budaya disamping tata nilai itu sendiri.

Televisi sebagai salah satu produk dari sains, teknologi informasi dan komunikasi termasuk isi dari penyiaraannya yang melibatkan aspek kesenian, tentunya juga merupakan bagian dari produk budaya yang dimana tidak bebas nilai melainkan memuat nilai-nilai tertentu yang menjadi landasan dan harapan bersama. Namun, sebagaimana dimaklumi teknologi televisi ini merupakan salah satu hasil dari adanya relasi budaya luar dengan budaya muslim, khusunya muslim Indonesia. Hal ini merupakan salah satu konsekuensi murni dari adanya keragaman suku-budaya, ras, bahkan agama yang memotivasi dan bahkan mensusupi nilai-nilai tertentu dalam interaksinya antar budaya global.

Relasi budaya tentunya berbeda dengan istilah serangan budaya dimana perbedaan nilai yang negative dari suatu budaya bagi budaya dalam negeri atau pada umumnya dunia muslim merupakan “ancaman” dan “tantangan” tersendiri dalam penyikapan dan penerimaannya. Lagi-lagi Islam sebagai sistem nilai, dalam kaitannya dengan bentuk “ancaman” dan “tantangan” tersebut telah mengatur dan mengantisipasi sedemikan rupa dengan acuan nilai rahmatan lil alamiin  dan amar ma’ruf nahi mungkar. Hubungan antar budaya ini yang merupakan kristalisasi dari komunikasi global dan dalam Islam komunikasi tersebut tentunya senantiasa memerhatikan secara penting hubungan yang terjadi bukan hanya sekedar secara horizontal antara sesama manusia dan lingkungannya melainkan juga secara vertikal antara Pencipta dan hamban-Nya.

Dalam kaitannya dengan hal itu tentunya pemanfaatan salah satu teknologi media komunikasi massa seperti televisi senantiasa disandarkan secara utuh dan langsung dengan bentuk dan sikap ketakwaan. Sehingga tata nilai, etika dan moral (akhlak) yang luhur dan mulia yang terintegrasikan tentunya telah menjadi muatan utama dalam setiap kegiatan penyiaran yang dapat dilakukan tersebut. Adapun bentuk-bentuk nilai yang dapat diketengahkan merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran suci agama Islam dan itu bersifat subtansial-universal (tidak hanya simbolik semata), seperti ketuhanan, kebenaran, kebaikan, kearifan, kebajikan, keadilan, kesederhanaan, kejujuran, keutamaan ilmu, kemerdekaan, persatuan umat dengan persamaan makna, ketauladanan dalam bertakwa, persaingan sehat dan persaudaraan, persamaan dan tanggungjawab, serta masih banyak lainnya yang dimana hal itu merupakan nilai-nilai yang memang tidak dapat ditolak oleh pihak manapun bahkan oleh umat beragama lainnya, sehingga dapat menjadi sebuah kesepahaman, kesepakatan dan ke-maslahat-an bersama.

Peranan dan fungsi media komunikasi massa ini (televisi) dalam memberikan pemodelan ketauladanan, mediaisasi, dan pengembangan kepribadian tentunya menjadi tanggung jawab yang mungkin dapat diupayakan bersama oleh seluruh elemen bangsa ini. Sehingga proses pendidikan nilai dan moral senantiasa efektif dan efisien dilakukan dengan memberikan stimulasi sadar dari lingkungan disamping secara legal formal dari institiusi-institusi pendidikan yang ada. Atas dasar ikhtiar tersebut, kita selaku sebagai muslim dan bagian dari bangsa Indonesia, tentunya dapat optimis untuk terus bergerak menuju kepada perubahan tatanan masyarakat madani yang damai sentausa, aman tentram, makmur dan bersahaja dengan citra dan harga diri bangsa yang luhur serta yang utama ialah dapat selamat di dunia ini dan di akhirat nanti.

I.       Saran

Adanya pembudayaan dan pemberian payung hukum secara konstitusional merupakan upaya sadar dan mendasar dari setiap gerakan bersama pembentukan kepribadian bangsa yang utuh secara etis-moral (berakhlak) mulia ini pada umumnya dan pemanfaatan TIK televisi sebagai media pendidikan nilai dan karakter pada masyarakat pada khususnya. Pembudayaan merupakan gerakan bawah di dalam masyarakat yang dapat dilakukan secara simultan dan berkesinambungan dengan jalur legal formal sebagai landasan hukumnya. Hal ini dapat ditempuh secara demokratis dengan melalui mekanisme penyepakatan dan pengambilan keputusan ditingkat elit parlemen dan yudikatif serta penyelenggaraan program-program penunjang serta infrastruktur dari pihak eksekutif. Adapun kesediaan secara sukarela dari peran serta aktif komponen masyarakat lainnya maupun keterlibatan dari pihak swasta penyelenggara media penyiaran televisi dalam pembiasaan pembentukan karakter ini merupakan titik gerak utama dalam upaya tersebut.

Sehingga proses internalisasi dan ideologisasi nilai-nilai etis dan moral tersebut dapat senantiasa terus terbuka dan berkembang. Namun perlu dipahami bahwa, proses tersebut bukan berarti dilandasi oleh nilai yang kurang sempurna atau tidak sempurna melainkan kebalikannya, seperti nilai-nilai dalam Islam yang pada hakikatnya sempurna dan sesuai dengan fitrah manusia sepanjang jaman, maka keterbukaan dan perkembangan ke arah perubahan dan perbaikan secara terus-menerus tersebut sekedar menunjukan adanya keluasan dan kemenyeluruhan nilai yang dianut sehingga tidak akan pernah tersandung dan terbentur oleh jaman di dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban umat manusia itu sendiri, khususnya bangsa Indonesia. Melainkan akan terus-menerus menjadi acuan seimbang dan ketersesuaian antara kesiapan individu dan masyarakat dengan nilai tersebut secara tak terbatas.

unduh file>>>


[1] Sutiadi. (2009). Pendidikan Nilai Moral Ditinjau dari Prespektif Global. Hal. 2-3. Yogyakarta: UNY – FBS.

[2] Mohd. Rafiq. (Jurnal: Analytica Islamica Vol. 5, No. 2, 2003: 149-168). Tantangan dan Peluang Komunikasi Islam pada Era Globalisasi Informasi. Hal. 5. Sumatera Utara: IAIN Sumut Prodi Komunikasi Islam.

[3] Ibid., Hal. 13-14.

[4] Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (Statistics Indonesia). Indikator Sosial Budaya, Tahun 2003, 2006, dan 2009. Jakarta. http://www.bps.go.id [April 2011]

[5] Robirendani. (2010). Pengaruh Televisi terhadap Maysarakat dan Sistem Komunikasi di Indonesia. http://robitea.wordpress.com [April 2011].

[6] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. (1995). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hal. 517. Jakarta: Balai Pustaka.

[7] Salam Abdul (2010). Teori-teori Komunikasi. Dikutip dari http://abdulsalamserbakomunikasi.blogspot.com [April 2011]

[8] Mohd. Rafiq. (Jurnal: Analytica Islamica Vol. 3, No. 2, 2003: 149-168). Tantangan dan Peluang Komunikasi Islam pada Era Globalisasi Informasi. Hal. 5. Sumatera Utara: IAIN Sumut Prodi Komunikasi Islam

[9] Susilana Rudi dan Riyana Cepi. (2008). Media Pembelajaran. Hal. 6. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.

[10] Alim Muhammad Baitul. (2010). Definisi Media Komunikasi dan Fungsinya. Di kutip dari http://www.psikologizone.com [April 2011]

[11] Aidie. (2009). Pengertian Media Penyiaran & Sejarah. Dikutip dari http://teorikuliah.blogspot.com [April 2011]

[12] Putra Afdal Makuraga. (2010). Modul Hukum & Etika Penyiaran: Pengertian Media Penyiaran. Jakarta: Universitas Mercu Buana FIKOM.

[13] Aidie. (2009). Pengertian Media Penyiaran & Sejarah. Dikutip dari http://teorikuliah.blogspot.com [April 2011].

[14] Wennyrahmawati (2009), Perkembangan Teknologi Televisi di Dunia. Dikutip dari http://wennyrahmawati.wordpress.com mirror  http://www.cybermq.com/index.php?intermezzo/detail/1/10/intermezzo-10.html [April 2011]

[15] Tim Dosen SPAI. (2010). Lembar Kerja Mahasiswa: Seminar Pendidikan Agama Islam. Hal. 64-67. Bandung: Value Press, Universitas Pendidikan Indonesia FPIPS Jurusan MKU.

[16] Al-Harrani Ibn Syaibah. (1384H). Tuhaful Uqul. Teheran-Iran: Islamiyah; penerjemah Alcaff  Muhammad Abdul Qadir. (2006). Wasiat Suci: Menuju Hidup Sukses & Bahagia. Hal. 30, No. 4 & Hal. 34, No. 20 & Hal. 36, No. 32 & Hal. 43, No. 64 . Jakarta Timur: Uswah.

[17] Sutiadi. (2009). Pendidikan Nilai Moral Ditinjau dari Prespektif Global. Hal. 3. Yogyakarta: UNY – FBS.

[18] Faqihudin Muhammad. (2010). Dasar-Dasar Pendidikan Nilai. Dikutip dari http://yayasanbaitulmaqdis.com [April 2011]

[19] Sauri Sofyan. (2007). Makalah: Sekilas Tentang Pendidikan Nilai . Disajikan dalam Pelatihan Guru-Guru di Kapus Politeknik UNSI Kabupaten Sukabumi. Bandung: Pasca Sarjana UPI.

[20] Tobroni. (2010). Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam. Malaysia: UMM Press, University of Malaya Malaysia FAI/PPS.

[21] Sutiadi. (2009). Pendidikan Nilai Moral Ditinjau dari Prespektif Global. Hal. 8-9. Yogyakarta: UNY – FBS.

[22] __. (1 Juni 1994). Studi Atas Ide dan Pemikiran Imam Khomeini Tentang Pendidikan. Teheran: Disampaikan dalam sebuah konferensi, dalam rangka memperingati wafatnya Imam Khomeini. Source from: www.al-shia.org [April 2011]

[23] Tim Dosen SPAI. (2010). Lembar Kerja Mahasiswa: Seminar Pendidikan Agama Islam. Hal. 18-20. Bandung: Value Press, Universitas Pendidikan Indonesia FPIPS Jurusan MKU.

[24] Sutiadi. (2009). Pendidikan Nilai Moral Ditinjau dari Prespektif Global. Hal. 10. Yogyakarta: UNY – FBS.

[25] __. (2010). Pidato Rahbar Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei: Cara Bijak Mengapresiasi Seni. Dikutip dari http://indonesian.irib.ir/ [April 2011].

[26] Ibid

[27] __. (2010). Pidato Rahbar Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei: Mediapun Mesti Bertakwa, Konsep Media Islam. Dikutip dari http://indonesian.irib.ir/ [April 2011].

[28] Al-Harrani Ibn Syaibah. (1384H). Tuhaful Uqul. Teheran-Iran: Islamiyah; penerjemah Alcaff  Muhammad Abdul Qadir. (2006). Wasiat Suci: Menuju Hidup Sukses & Bahagia. Hal. 30, No. 4 & Hal. 34. Jakarta Timur: Uswah.

[29] Alim Muhammad Baitul. (2010). Definisi Media Komunikasi dan Fungsinya. Di kutip dari http://www.psikologizone.com [April 2011]

[30] Ibid.

[31] Robirendani. (2010). Pengaruh Televisi terhadap Maysarakat dan Sistem Komunikasi di Indonesia. Hal. 4. Dikutip dari http://robitea.wordpress.com [April 2011]

[32] Tim Dosen SPAI. (2010). Lembar Kerja Mahasiswa: Seminar Pendidikan Agama Islam. Hal. 28. Bandung: Value Press, Universitas Pendidikan Indonesia FPIPS Jurusan MKU.

[33] Robirendani. (2010). Pengaruh Televisi terhadap Maysarakat dan Sistem Komunikasi di Indonesia. Hal. 5. Dikutip dari http://robitea.wordpress.com [April 2011]

[34] Tim Redaksi Swara Iman. (2010). Pidato Rahbar di Depan para Seniman, Budayawan, dan Karyawan IRIB tanggal: Seni dan Kebebasan. Hal. 4-7. Bogor: Majalah Islam Swara Iman Edisi 32 Muharram dan Safar 1432H.

[35] Asy-Syahid Murtadha Muthahhari. Revelation and Prophethood. Teheran-Iran: Boyand Be’that, diterjemahkan oleh : Ahsin Mohammad. (1991). Falsafah Kenabian. Hal. 111. Jakarta Pusat: Pustaka Hidayah.

[36] Al-Harrani Ibn Syaibah. (1384H). Tuhaful Uqul. Teheran-Iran: Islamiyah; penerjemah Alcaff  Muhammad Abdul Qadir. (2006). Wasiat Suci: Menuju Hidup Sukses & Bahagia. Hal. 31, No. 9 & Hal. 34, No. 22-23. Jakarta Timur: Uswah.

[37] Asy-Syahid Murtadha Muthahhari. Revelation and Prophethood. Teheran-Iran: Boyand Be’that, diterjemahkan oleh : Ahsin Mohammad. (1991). Falsafah Kenabian. Hal. 112. Jakarta Pusat: Pustaka Hidayah.

[38] Al-Harrani Ibn Syaibah. (1384H). Tuhaful Uqul. Teheran-Iran: Islamiyah; penerjemah Alcaff  Muhammad Abdul Qadir. (2006). Wasiat Suci: Menuju Hidup Sukses & Bahagia. Hal. 39, No. 44. Jakarta Timur: Uswah.

[39] Bagus Ghojali. (2010). Komunikasi Massa. Dikutip dari http://www.psikologizone.com [April 2011]

[40] Robirendani. (2010). Pengaruh Televisi terhadap Maysarakat dan Sistem Komunikasi di Indonesia. Hal. 3. Dikutip dari http://robitea.wordpress.com [April 2011].

[41] Salam Abdul (2010). Teori-teori Komunikasi. Dikutip dari http://abdulsalamserbakomunikasi.blogspot.com [April 2011].

[42] Mohd. Rafiq. (Jurnal: Analytica Islamica Vol. 3, No. 2, 2003: 149-168). Tantangan dan Peluang Komunikasi Islam pada Era Globalisasi Informasi. Hal. 7. Sumatera Utara: IAIN Sumut Prodi Komunikasi Islam.

[43] Darmanto A. (2011). TV sebagai Media Pendidikan. Jakarta: Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi (BPPI) Wilayah IV, Balitbang Depkominfo. Dikutip dari http://www.psikologizone.com [April 2011].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: